Dirjen IKFT Mendampingi Menperin Meresmikan Pengoperasian Mesin AK 2000 milik PT Schott Igar Glass

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memberikan sambutan pada acara Peresmian Pengoperasian Fasilitas Mesin AK 2000 milik PT Schott Igar Glass di Cikarang, 24 April 2019. Dalam paparannya Menperin mengapresiasi PT Schott Igar Glass yang merupakan produsen utama produk vial dan ampul yang telah menerapkan teknologi industri 4.0 yang berfokus pada sistem operasional produksi yang terintegrasi.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bersama Direktur Utama PT Schott Igar Glass Mr. Abelardo Mora menggunting pita sebagai tanda diresmikannya Pengoperasian Fasilitas Mesin AK 2000 milik PT Schott Igar Glass di Cikarang, 24 April 2019.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didammpingi Dirjen IKFT Achmad Sigit Dwiwahjono bersama Direktur Utama PT Schott Igar Glass Mr. Abelardo Mora meninjau pabrik produksi vial dan ampul milik PT Schott Igar Glass yang telah menggunakan Mesin AK 2000 di Cikarang, 24 April 2019.

Pasar Besar, Industri Kaca Alat Farmasi dan Kesehatan Tambah Kapasitas

Kementerian Perindustrian terus memacu pengembangan industri kaca untuk alat-alat farmasi dan kesehatan. Berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN)Tahun 2015-2035,industri tersebut menjadi sektor prioritas karena guna memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, menjadi substitusi impor, dan mampuberdaya saing di kancah internasional.

“Di samping itu, Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan mengamanatkan bahwa untuk mendukung percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan, antara lain dengan meningkatkan daya saing industri di dalam negeri dan ekspor,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Peresmian Pengoperasian Mesin AK 2000 (Top Line Production) PT Schott Igar Glass di Cikarang, Rabu (24/4).

Menperin mengemukakan, peluang pengembangan industri kaca alat-alat farmasi dan kesehatan masih sangat terbuka, termasuk untuk memperbesar pasar dalam negeri. Hal ini ditopang dengan tumbuhnya industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional sebesar 4,46% pada tahun 2018.

“Bahkan, jumlah penduduk Indonesia mencapai 260 juta jiwa yang membutuhkan produk farmasi berupa vaksin, obat dan lainnya, mendorong pula kebutuhan pasar domestik,” ungkapnya. Konsumsi produk ampul di dalam negeri sebesar 700 juta pcs per tahun dan produk vial sebesar 500 juta pcs per tahun dengan pertumbuhan kebutuhan per tahun sebesar 3%.

Kemenperin memberikan apresiasi kepada PT Schott Igar Glass atas upaya penambahan top line production sebanyak dua mesin AK 2000. Mesin yang mengadopsi teknologi industri 4,0 ini untuk meningkatkan kapasitas terpasang produk vial dari 540 juta pcs per tahun menjadi 576 juta pcs per tahun atau tambah sebesar 36 juta pcs per tahun. Sedangkan, kapasitas produksi terpasang untuk ampul sebesar 775 juta pcs per tahun.

“Capaian tersebut, menjadikan PT Schott Igar Glass sebagai produsen utama dari produk vial dan ampul untuk kebutuhan domestik dengan pangsa pasar mencapai 70%. Selain itu, PT Schott Igar Glass telah menembus pasar ekspor ke lebih dari 20 negara di Asia dan Eropa,” papar Airlangga.   Pada 2018, ekspor produk ampul dan vial secara nasional sebesar 2.500 ton atau senilai USD17 juta.

Menperin menyampaikan, industri kaca merupakan sektor padat modal yang membutuhkan biaya investasi besar. Untuk itu, dalam pelaksanaan kebijakan pengembangan sektor industri pengolahan, difokuskan pada penguatan rantai pasok untuk menjamin ketersediaan bahan baku serta energi yang berkesinambungan dan terjangkau. Hal ini sesuai amanat yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian.

“Pada kesempatan ini, kami juga ingin menyampaikan terima kasih kepada PT Schott Igar Glass yang selama lebih dari 15 tahunini telah percaya terhadap iklim investasi di Indonesia yang kondusif, sehingga terus berkomitmen dan berkontribusi dalam membangun industri kaca nasional. Pabrik di Cikarang ini terbesar ketiga di dunia,” ujarnya.

Lebih lanjut, guna melindungi industri kaca farmasi di dalam negeri, Kemenperin berinisiasi untuk melakukan penyusunan Standar Nasional Indonesia (SNI) produk ampul dan merevisi SNI produk vial, yang selanjutnya akan diwajibkan.

“Dengan diproduksinya ampul dan vial di dalam negeri, kita harapkan pula dapat mengoptimalkan nilai tingkat komponen dalam negeri (TKDN) produk farmasi melalui komponen kemasan dalam proyek pengadaan jaminan kesehatan pemerintah,” tuturnya. 

Presiden Direktur PT Schott Igar Glass Abelardo Riveron berharap penerapan SNI wajib bagi produk ampul dan vial dapat segera terealisasi. Tujuannya untuk melindungi produsen dan konsumen dalam negeri. “SNI wajib menjadi penting karena untuk prioritas tehadap keamanan pengguna,” tegasnya.

Penggerak utama

Industri manufaktur dinilai akan menjadi penggerak utama terhadap pertumbuhan ekonomi nasional karena sektortersebut berperan penting dalam menciptakan nilai tambah, perolehan devisa dan penyerapan tenaga kerja yangujungnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Di satu sisi, era perdagangan bebas yang terjadi saat ini membuat akses pasar semakin terbuka. Hal ini merupakan peluang sekaligus tantangan bagi industri, sehingga sektor industri nasional dituntut untuk terus menerus meningkatkan daya saing agar mampu berkompetisi untuk menguasai pasar yang tersedia,” ungkap Menperin.

Selanjutnya, dalam menghadapi tantangan sebagai akibat dari perdagangan bebas serta untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi, pemerintah terus berupaya mendorong berkembangnya sektor industri manufaktur yang berdaya saing tinggi dengan menciptakan iklim usaha yang atraktif.

Guna meningkatkan daya saing industri nasional, Kemenperin telah melakukan upaya-upaya strategis, antara lainmemfasilitasi pemberian insentif fiskalberupatax allowance serta tax holiday,melakukan pengendalian impor dan pengamanan pasar dalam negeri, optimalisasi pemanfaatan pasar dalam negeri dan pasar ekspor, serta pelaksanaanProgram Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN).

“Namun demikian, upaya-upaya untuk peningkatan daya saing industri tersebut, tidak terlepas dari kualitas sumber daya manusia industri,” ujar Airlangga. Untuk itu, industri manufakturperlu aktif terlibat dalam program pengembangan pendidikan vokasi industri melalui pembinaan dan pengembangan SMK yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha industri atau program pendidikan vokasi yang link and match antara SMK dengan industri.

“Sebagai daya tarik bagi industri, pemerintah saat ini sedang menyiapkan insentif bagi perusahaan industri yang berperan aktif dalam pengembangan pendidikan vokasi, berupa super deductible tax, yaitu pengurangan penghasilan bruto sebesar 200% dari biaya yang dikeluarkan perusahaan,” imbuhnya. Diharapkan pada semester pertama tahun ini, kebijakan insentif tersebut diterbitkan.

Selain insentif fiskal, Kemenperin juga menyediakan insentif nonfiskal berupa penyediaan tenaga kerja kompeten melalui Diklat sistem 3 in 1 dan Program Diploma I Industri, bagi perusahaan yang terlibat dalam program pendidikan vokasi industri ini.

Di samping itu, pemerintah berkomitmen merevitalisasi industri manufaktur melalui pelaksanaan peta jalan Making Indonesia 4.0, sebagai upaya dalam rangka peningkatan daya saing industri nasional. Dalam program Making Indonesia 4.0, pemerintah telah menetapkan lima industri prioritas yang akan menjadi fokus implementasi, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronika.

“Kelima sektor tersebut memiliki dampak ekonomi dan kriteria kelayakan implementasi yang mencakup ukuran PDB, perdagangan, potensi dampak terhadap industri lain, besaran investasi dan kecepatan penetrasi pasar,” jelasnya.

Menperin menegaskan, penerapan industri 4.0 merupakan upaya untuk melakukan otomatisasi dan digitalisasi pada proses produksi, dengan ditandai meningkatnya konektivitas, interaksi, serta batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya yang semakin konvergen melalui teknologi informasi dan komunikasi. Implementasi industri 4.0 akan mendorong peningkatan investasi oleh perusahaan, terutama yang terkait dengan penggunaan teknologi pendukung seperti Internet of Things (IoT).

Peresmian Tungku Baru Pabrik Kaca Lembaran Milik PT Asahimas Flat Glass

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Dirjen IKFT Achmad Sigit Dwiwahjono melakukan firing ceremony tanda peresmian pabrik kaca lembaran terintegrasi PT Asahimas Flat Glass di Cikampek, Jawa Barat, Senin (18/2). PT Asahimas Flat Glass Tbk telah resmi menutup tungku F3 pabrik kaca lembaran miliknya yang berlokasi di Ancol, Jakarta Utara. Penutupan pabrik berkapasitas 120 ribu ton per tahun ini dilakukan karena sudah mencapai umur ekonomisnya, yang telah beroperasi sejak tahun 1973 Kemudian digantikan dengan tungku baru yang berlokasi di Cikampek. Dengan diresmikannya tungku baru PT Asahimas Flat Glass Tbk total kapasitas produksi kaca lembaran yang dihasilkan PT. Asahimas Flat Glass saat ini menjadi 720 ribu ton per tahun, ditambah dengan kapasitas pabrik di Sidoarjo sebesar 300 ribu ton per tahun.

Menperin Airlangga Hartarto melakukan kunjungan pabrik di PT Asahimas Flat Glass di Cikampek, Jawa Barat. Pada kesempatan tersebut, Menperin didampingi oleh Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum dan Presiden Komisaris PT Asahimas Flat Glass Mucki Tan. Dengan ditambahnya tungku baru milik PT Asahimas Kapasitas produksi industri kaca lembaran nasional meningkat menjadi 1,34 juta ton per tahun dari sebelumnya sebesar 1,13 juta ton per tahun.

Menperin Airlangga Hartarto melakukan gunting pita dibukanya tungku baru milik PT Asahimas Flat Glass Tbk, perusahaan tersebut telah resmi menutup tungku F3 pabrik kaca lembaran miliknya yang berlokasi di Ancol, Jakarta Utara. Penutupan pabrik berkapasitas 120 ribu ton per tahun ini dilakukan karena sudah mencapai umur ekonomisnya, yang telah beroperasi sejak tahun 1973. Kemudian perusahaan merelokasi pabrik ke wilayah Cikampek untuk merealisasikan penambahan investasinya sebesar Rp5 triliun.

Industri Kaca Lembaran Tambah Kapasitas Jadi 1,34 Juta Ton

Industri kaca lembaran mengalami peningkatan kapasitas produksi seiring adanya perluasan usaha dari salah satu produsen guna memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor. Langkah ekspansi ini sekaligus menandakan bahwa iklim usaha di Indonesia masih kondusif.

“Kapasitas produksi terpasang industri kaca lembaran nasional meningkat menjadi 1,34 juta ton per tahun dari sebelumnya sebesar 1,13 juta ton per tahun,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat peresmian pabrik kaca lembaran terintegrasi PT Asahimas Flat Glass di Cikampek, Jawa Barat, Senin (18/2).

PT Asahimas Flat Glass Tbk telah resmi menutup tungku F3 pabrik kaca lembaran miliknya yang berlokasi di Ancol, Jakarta Utara. Penutupan pabrik berkapasitas 120 ribu ton per tahun ini dilakukan karena sudah mencapai umur ekonomisnya, yang telah beroperasi sejak tahun 1973.

Perusahaan merelokasi pabrik ke wilayah Cikampek untuk merealisasikan penambahan investasinya sebesar Rp5 triliun. “Kita menyaksikan peresmian pabrik baru di Cikampek ini bukan hanya sekedar relokasi, tetapi perluasan dan peningkatan kapasitas pabrik kaca lembaran menjadi sebesar 420 ribu ton per tahun. Selain itu menyerap tenaga kerja, sebanyak 3.000 orang,” ungkap Menperin.

Total kapasitas produksi kaca lembaran yang dihasilkan PT. Asahimas Flat Glass saat ini menjadi 720 ribu ton per tahun, ditambah dengan kapasitas pabrik di Sidoarjo sebesar 300 ribu ton per tahun. “Kami berharap, pembangunan pabrik terintegrasi ini dapat berkontribusi dalam peningkatan daya saing industri kaca lembaran nasional baik di pasar domestik hingga global, sehingga jadi leading sector” tandasnya.

Selain memproduksi kaca lembaran, pabrik PT. Asahimas Flat Glass di Cikampek juga menghasilkan kaca cermin dengan kapasitas sebanyak 6,8 juta ton per tahun serta kaca pengaman dengan kapasitas hingga 5,8 juta ton per tahun. Pabrik baru ini berada lebih dekat dengan sentra produksi otomotif, yang menyumbang permintaan produk kaca cukup besar.

“Untuk itu, kami memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada PT. Asahimas Flat Glass atas eksistensi dan integritasnya dalam membangun industri kaca nasional,” ujarnya. Menperin meyakini, ekspansi ini menjadi simbol menyalanya semangat industri kaca nasional menuju Indonesia sebagai negara industri yang tangguh di kancah dunia.

Presiden Komisaris PT. Asahimas Flat Glass Mucki Tan menyampaikan, Asahimas merupakan produsen kaca pertama di Indonesia yang didirikan sejak tahun 1971 dan mulai produksi 1973. “Hampir 45 tahun kami beroperasi di Ancol untuk memproduksi kaca lembaran, cermin, dan untuk otomotif,” ungkapnya.

Menurut Tan, seiring perkembangan ekonomi di Indonesia yang positif dan permintaan kaca yang terus meningkat, Asahimas harus mendongkrak kapasitasnya. “Dengan keterbatasan fasilitas di pabrik Ancol, pada 1995 kami mulai merencanakan untuk merelokasi fasilitas produksi. Hal tersebut ditandai dengan membangun pabrik kaca otomotif yang selesai pada tahun 2003,” imbuhnya.

Kemudian, penambahan fasilitas baru pada 2016, kapasitas produksi Asahimas saat ini meningkat 55 persen. “Dengan selesainya pembangunan fasilitas ini, pabrik kaca Asahimas menjadi terintegrasi. Kami pun sekarang sudah memanfaatkan teknologi semiotomatis, ditandai dengan penggunaan robot dan peralatan digital serta diperkenalkannya konsep smart factory. Ini artinya kami memulai pijakan menuju revolusi industri 4.0,” paparnya.

Pengembangan daya saing

Menperin menyampaikan, industri kaca merupakan sektor padat modal dan padat energi yang butuh biaya investasi besar. Untuk itu, diperlukan kebijakan strategis dalam upaya pengembangan daya saingnya.

“Kebijakan pengembangan sektor industri pengolahan difokuskan pada penguatan rantai pasok untuk menjamin ketersediaan bahan baku energi yang berkesinambungan dan terjangkau. Hal ini juga untuk memperdalam dan memperkuat struktur manufaktur di Indonesia,” jelasnya.

Mengenai upaya memacu kinerja industri kaca nasional, pemerintah telah berupaya mengamankan pasokan bahan baku untuk industri kaca yang berasal dari dalam negeri sebagai competitive advantage seperti pasir silika, dolomite, limestone, dan lainnya. Selain itu, pemerintah juga mendorong tumbuhnya investasi dari industri bahan baku dan penolong seperti soda ash, cullet, iron oxide dan lainnya.

“Terkait gas bumi sebagai bahan bakar untuk industri kaca, pemerintah mengupayakan adanya jaminan pasokan dan mendapatkan harga yang ideal dan kompetitif. Hal ini sesuai amanat yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian,” ucapnya.

Airlangga menuturkan, hasil produksi kaca nasional meliputi kaca lembaran, kaca pengaman, dan kaca cermin atau dekoratif, sebesar 70 persen untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sisanya diekspor ke berbagai negara Timur Tengah, Afrika, Oceania, Eropa, Amerika Serikat dan Asia dengan total nilai ekspor sebesar USD113 juta pada tahun 2018.

“Permintaan kaca lembaran dunia tumbuh sekitar 6,6 persen per tahun. Pada 2018, tercatat sebesar 10 miliar meter persegi atau senilai kurang lebih USD102 miliar, yang diperkirakan 50 persen permintaan dunia ada di wilayah Asia-Pasifik. Potensi ekspor naik bisa 30-40 persen,” ungkapnya.

Menperin optimistis, industri kaca nasional akan terus tumbuh setiap tahunnya, seiring kenaikan permintaan dari pasar domestik dan ekspor. Sementara itu, pemanfaatan dalam negeri diserap oleh sektor properti sebesar 65 persen, otomotif 15 persen, furnitur 12 persen dan lainnya 8 persen.

“Pemerintah terus mendorong peningkatan produksi, karena peluang untuk memperbesar pasar dalam negeri masih sangat terbuka, mengingat penduduk Indonesia yang mencapai 260 juta orang dan seiring dengan tumbuhnya pekerja usia produktif yang membutuhkan perumahan,” imbuhnya.

Peluang ini juga terlihat dengan tumbuhnya kinerja industri alat angkutan yang mengalami pertumbuhan sebesar 4,24 persen (y-on-y). Kinerja perdagangan kendaraan bermotor mengalami surplus, tercatat sebesar USD143 juta pada Januari-Oktober 2018. Kemudian dengan giatnya pemerintah membangun pengadaan light rail transit (LRT) dan mass rapid transit (MRT) yang berdampak baik pada pengadaan lokomotif dan kereta api.

“Tentunya dengan kinerja yang bagus ini dapat meningkatkan pemakaian kaca pengaman sebagai salah satu komponen dalam industri otomotif dan perkeretaapian,” tuturnya.

Airlangga menambahkan, industri manufaktur terusmenjadi penggerak utama pada pertumbuhan ekonomi nasional karena sektor inii berperan penting dalam menciptakan nilai tambah, perolehan devisa dan penyerapan tenaga kerja yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Di satu sisi, era perdagangan bebas yang terjadi saat ini membuat akses pasar semakin terbuka. Hal ini merupakan peluang sekaligus tantangan bagi industri, sehingga sektor industri nasional dapat terus meningkatkan daya saing agar mampu berkompetisi untuk menguasai pasar yang tersedia.

“Menghadapi tantangan sebagai akibat dari perdagangan bebas serta untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi, pemerintah terus berupaya mendorong berkembangnya sektor industri yang berdaya saing tinggi dengan menciptakan iklim usaha yang atraktif,” imbuh Airlangga.

Kemudian, dalam rangka meningkatkan daya saing industri nasional, Kemenperin telah melakukan upaya-upaya antara lain dengan memberikan insentif fiskal seperti skema tax allowance serta tax holiday, melakukan upaya pengendalian impor dan pengamanan pasar dalam negeri, optimalisasi pemanfaatan pasar dalam negeri dan ekspor, serta pelaksanaan Program Peningkatan Produksi Dalam Negeri (P3DN).

Selain itu, pada Juli 2018, pemerintah telah meluncurkan Online Single Submission (OSS) untuk penyederhanaan proses perizinan dan menciptakan model pelayanan perizinan yang terintegrasi di Indonesia.

Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan.

Dirjen IKTA Mendampingi Menperin Menerima Kunjungan Presiden Komisaris PT Surya Toto Indonesia

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berbincang dengan Presiden Komisaris PT Surya Toto Indonesia Mardjoeki Atmadiredja di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 27 Agustus 2018. Dalam kunjungannya, Mardjoeki berdiskusi mengenai perkembangan industri keramik di Indonesia.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto yang didampingi oleh Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Achmad Sigit Dwiwahjono berbincang dengan Presiden Komisaris PT Surya Toto Indonesia Mardjoeki Atmadiredja di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 27 Agustus 2018.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berfoto bersama Presiden Komisaris PT Surya Toto Indonesia Mardjoeki Atmadiredja di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 27 Agustus 2018. Pada kesempatan tersebut, Mardjoeki juga melaporkan Berdasaran laporan keuangan perseroan, pada 2017 TOTO berhasil membukuan penjualan sebesar Rp2,17 triliun, meningkat 4,97% dari capaian 2016 yang sebesar Rp2,07 triliun.

Pameran Produk Industri Bahan Galian Non Logam (Keramik & Kaca)

Direktur Jenderal Industri Kimia Tekstil dan Aneka Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono didampingi Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Fridy Juwono dan Ketua Umum Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman Yustinus Gunawan menginjak kaca tempered produksi PT Sinar Rasa Kencana pada Pameran Produk Industri Bahan Galian Non Logam (Keramik & Kaca) di Plasa Pameran Kemenperin, Jakarta, 30 Mei 2018.

Direktur Jenderal Industri Kimia Tekstil dan Aneka Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono memperhatikan keramik produksi PT Arwana Citra di Plasa Pameran Kemenperin, Jakarta, 30 Mei 2018.

Direktur Jenderal Industri Kimia Tekstil dan Aneka Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono memperhatikan gelas produksi PT First National Glassware didampingi Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Fridy Juwono dan Ketua Umum Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman Yustinus Gunawan di Plasa Pameran Kemenperin, Jakarta, 30 Mei 2018.

Antaranews.com : Sektor IKTA bidik pertumbuhan 4,5 persen

Jakarta (ANTARA News) – Kementerian Perindustrian membidik pertumbuhan Industri Kimia Tekstil dan Aneka (IKTA) mampu tumbuh 4,5 persen hingga akhir Desember 2018.

“Kimia, tekstil kita targetkan 4,5 persen. Kimia dan farmasi ini banyak tantangannya, tapi ya bisa tumbuh 7-8 persen, paling besar kontribusinya,” kata Dirjen IKTA Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono yang dihubungi di Jakarta, Jumat.
Sementara itu, lanjut Sigit, sektor tekstil ditargetkan tumbuh sekitar 3 persen.
Menurut tren, industri petrokimian dan kosmetika biasanya tumbuh hingga 9 persen per tahun.
Tahun ini, Kemenperin menargetkan nilai investasi di sektor IKTA akan mencapai Rp117 triliun atau naik dari realisasi tahun 2017 yang diperkirakan menembus angka Rp94 triliun.
“Industri farmasi serta produk obat kimia dan tradisional akan memberikan kontribusi pertumbuhan paling tinggi di sektor IKTA pada tahun ini, yakni mencapai 6,38 persen,” ujar Sigit.
Proyeksi penanaman modal dari sektor IKTA bakal menyumbang sekira 33 persen terhadap target investasi secara keseluruhan pada kelompok manufaktur nasional senilai Rp352 triliun.
Kemenperin, menurut dia, tengah memprioritaskan pendalaman struktur industri farmasi nasional, terutama di sektor hulu atau produsen penyedia bahan baku obat. Upaya strategis ini untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Ditjen IKTA juga akan melakukan kembali restrukturisasi mesin untuk industri tekstil untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri.

Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Investor Daily : Industri Keramik Minta Harga Gas Turun Tahun Ini

Senin, 8 Januari 2018 | 18:23

JAKARTA – Para pelaku usaha keramik yang tergabung dalam Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) mendesak pemerintah menurunkan harga gas industri tahun ini. Sebab, rencana penurunan harga gas sudah diumumkan sejak lama, namun belum direalisasikan.

Ketua Asaki Elisa Sinaga mengatakan, sepanjang 2017, tarif gas untuk industri keramik sangat mahal dan belum juga diturunkan. Padahal, pemerintah berjanji menurunkan harga gas sejak 2015.

Harga gas yang dibeli industri keramik, kata dia, mencapai US$ 8 per million metric british thermal unit (mmbtu), termahal di Asean. Bandingkan dengan negara Asean lainnya, seperti Malaysia, Filipina dan Singapura sebesar US$ 3 per mmbtu.

“Masalah harga gas ini sudah isu lama dan sudah sering kami sampaikan tetapi dari pemerintah belum ada realisasi nyata,” ujar dia kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.

Dia mengatakan kinerja industri keramik pada tahun 2017 stagnan karena dua faktor yaitu produk impor banyak masuk ditambah harga gas yang tinggi membuat beberapa pabrikan menghemat biaya produksi sehingga kapasitas produksi dibatasi.

Industri keramik pada tahun ini diproyeksikan masih stagnan jika pemerintah belum menurunkan harga gas. Menurut dia, dampak jika harga gas diturunkan sangat besar karena bisa meningkatkan produksi.

Ia mengatakan industri keramik termasuk industri padat karya karena menyerap tenaga kerja cukup besar, seharusnya pemerintah lebih concern kepada perkembangan industri keramik dalam negeri.

“Pemerintah harus memberikan kebijakan yang menguntungkan untuk industri keramik,” ujar dia.

Sebelumnya, pemerintah kaji pemangkasan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) untuk menurunkan harga gas industri. Kajian ini diharapkan dapat selesai awal 2018, sehingga penurunan harga gas bisa segera direalisasikan.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan, dengan mengurangi PNBP, harga gas bisa menjadi US$ 6,3-7 per mmbtu di tingkat hulu. Namun, industri pengguna pada akhirnya masih mendapatkan harga di kisaran US$ 8 per mmbtu.

“Harga sebesar itu masih belum sesuai Perpres penurunan harga gas,” kata Sigit, belum lama ini.

Sigit menuturkan, penghitungan besaran pemangkasan PNBP menjadi wewenang Kementerian ESDM. Yang terpenting, harga gas bisa sesuai Peraturan Presiden No. 40 Tahun 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi. Saat ini, industri yang lahap energi masih mendapatkan harga gas berkisar US$ 9-10 per mmbtu.

“Kami belum punya hitungan yang detail, karena yang punya hitungannnya ESDM. Kami tunggu dari ESDM agar bisa mengurangi toll fee-nya,” kata Sigit.

Alternatif pemangkasan PNBP, menurut Sigit, paling memungkinkan dibandingkan dengan impor gas, yang sebelumnya pernah diusulkan.  Pasalnya, untuk impor LNG infrastrukturnya menyalurkan ke masing-masing perusahaan harus siap. Penyediaan infrastruktur ini membutuhkan investasi yang cukup besar.

“Harus ada floating terminal, siapa yang mau investasi itu? Pembangunannya juga tidak bisa cepat. Kami maunya harga gas bisa lebih kompetitif. Sebab, kalau kita lihat persaingan dengan negara-negara lain ketat sekali, dan harga gas di negara pesaing lebih kompetitif,” kata Sigit.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengungkapkan, pemangkasan PNBP paling tidak hanya bisa mengurang harga gas sebesar US$ 0,7 per mmbtu. Untuk itu, masih dibutuhkan perhitungan dari (Kemenperin), apakah pengurangan PNBP tersebut atraktif atau sebaliknya. (dho)

Bisnis.com : Tunggu 3 Tahun Lagi untuk Capai Keseimbangan Baru di Industri Semen

Bisnis.com, JAKARTA—Kelebihan pasokan yang kini terjadi di industri semen diperkirakan akan berkurang dan mencapai keseimbangan baru pada 3 tahun mendatang.

Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan kondisi oversupply semen baru akan mencapai keseimbangan baru dalam kurun waktu 2 hingga 3 tahun ke depan seiring pertumbuhan ekonomi. Selama menunggu keseimbangan baru tercapai, pabrikan harus melakukan efisiensi.

“Efisiensi bisa dilakukan dengan memperbaiki sistem produksi dan logistik,” ujarnya kepada Bisnis.com, Selasa (19/12/2017).

Menurutnya, perbaikan sistem produksi dan logistik perlu dilakukan oleh perusahaan semen karena karakteristik semen yang bulky dan berat, sehingga aspek energi dan logistik sangat menentukan daya saing di industri ini. Selain itu, pabrikan juga didorong untuk menyalurkan kelebihan produksi ke pasar ekspor.

Sementara itu, Direktur Barang Galian Non Logam Kemenperin Lintong Hutahaean menuturkan kendati kelebihan pasokan semen saat ini masih cukup besar, tetapi konsumsi domestik telah mulai tumbuh positif mulai paruh kedua tahun ini.

“Sementara ini, beberapa pabrikan sudah melakukan ekspor semen untuk menghadapi oversupply. Konsentrasi mereka masih fokus ke pasar dalam negeri karena untuk ekspor kan biaya logistiknya juga tinggi,” jelasnya.

Terkait dengan harapan penghentian sementara investasi baru di industri semen, Lintong menuturkan saat ini Kemenperin masih mengawasi kondisi di lapangan. Kendati demikian, menurutnya Kemenperin tidak perlu mengatur bisnis dengan membatasi investasi baru.

“Investor kan kalau mau menanamkan modal pasti sudah melihat situasi dan mereka tentu tidak mau investasi kalau rugi. Investor kan melihat potensi jangka panjang,” ujarnya

Saat ini kapasitas terpasang seluruh pabrikan semen di Indonesia mencapai 106 juta ton. Angka ini jauh melampaui permintaan domestik tahunan sebesar 63 juta ton.

WartaEkonomi.co.id : Bangun Pabrik Baru di Indonesia, Kohler Gelontorkan USD100 Juta

Pabrikan produk sanitasi, Kohler menunjukkan keseriusan untuk menggarap besarnya potensi pasar di Indonesia. Ini terlihat dari langkah perusahaan asal Amerika Serikat (AS) itu dengan mendirikan pabrik baru.

Proses pembangunan ditandai dengan seremonial groundbreaking pabrik, Selasa (28/11/2017). Kohler memilih untuk mendirikan pabrik perdananya di Greenland International Industrial Center (GIIC), DE No. 1, Kota Deltamas, Desa Pasir Ranji, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Acara dihadiri oleh Presiden Grup Kohler Larry Yuen dan Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kementrian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono. Rencananya, pabrik baru tersebut akan rampung dan mulai beroperasi pada akhir 2019.

Larry Yuen dalam sambutannya menjelaskan, saat mulai beroperasi, pabrik itu akan menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja baru. Selain itu, dia juga mengatakan pabrik yang didirikan dengan total nilai investasi sekitar USD100 juta di atas lahan seluas 20 hektare ini akan memproduksi produk berbahan kaca keramik. Sementara produk-produk kamar mandi dan dapur masih akan diimpor dari beberapa pabrik di luar negeri.

“Pertama kali, kita akan fokus pada produksi keramik dan juga dua produk tetap impor. Bukan cuma kamar mandi. tapi juga produk di dapur. Produk dapur yang di jual di antaranya wastafel, keran, dan rak di dapur. Itu masih untuk di impor,” jelasnya.

Pembangunan pabrik ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja perusahaan dalam mencukupi permintaan pasar di Indonesia. Tentu dengan kualitas produk yang terjamin dan berkualitas tinggi.”Pabrik ini akan melayani permintaan pasar lokal dengan kualitas produk Kohler yang tinggi dan telah terjamin, serta akan membawa layanan kami lebih dekat dengan para mitra bisnis dan pelanggan,” pungkasnya.