Infografis Kinerja Direktorat Jenderal Industri Kimia Tekstil dan Aneka Kementerian Perindustrian

Dampak Positif Perang Dagang AS – China Bagi Indonesia

Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China sejak 6 Juli lalu ternyata memberikan dampak positif kepada Indonesia. 

Beberapa dampak positif diantaranya adalah produsen Nike yang akan menambah kapasitas produksinya di Indonesia. Meski masih dalam tahap pembahasan, namun mereka sudah menyampaikan niatannya agar Indonesia mengisi stok guna memenuhi permintaan pasar. 

Selain di sektor alas kaki, Indonesia juga ketiban berkah di sektor otomotif akibat dampak perang dagang antara dua negara adi daya tersebut. Dua raksasa otomotif, Volks Wagen dari Jerman dan Hyundai dari Korea Selatan dikabarkan akan berinvestasi di Indonesia.

Ekspor Industri Tekstil dan Produk Tekstil

Industri tekstil dan produk tekstil catatkan ekspor berkisar US$13,6–13,8 miliar sepanjang 2018, melampaui target ekspor pada tahun tersebut sebesar US$12,31 miliar. 

Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono menjelaskan, pihaknya optimistis industri kimia, tekstil, dan aneka akan tumbuh pada 2019 seiring peningkatan investasi pada sektor tersebut. Kemenperin targetkan investasi masuk mencapai Rp149,7 triliun pada sektor tersebut.

Kontribusi Industri Manufaktur Terhadap PDB Kawasan ASEAN

Berdasarkan data dari Trading Economics, pada kuartal III 2018, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang berasal dari industri manufaktur sebesar USD39,7 miliar. Angka PDB sektor manufaktur Indonesia ini terbesar di kawasan Asean.

Dengan konsistensi kontribusi yang tertinggi tersebut, pemerintah berkomitmen lebih memacu pengembangan industri manufaktur melalui pelaksanaan peta jalan Making Indonesia 4.0

Investasi Sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT)

Pemerintah terus berupaya menarik penanaman modal di sektor industri dalam negeri, tak terkecuali untuk produk kimia, farmasi, dan tekstil pada tahun 2019 ini. 

Kementerian Perindustrian optimistis dapat merealisasikan target investasi pada sektor industri kimia, farmasi, dan tekstil yang dipatok senilai Rp149,7 triliun pada tahun ini.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono memproyeksikan sudah ada investasi siap masuk senilai US$8,9 miliar atau Rp130 triliun pada 2019. Investasi itu berasal dari dua pelaku industri petrokimia yakni, PT Lotte Chemical Indonesia dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk.

Kontribusi PDB Industri Kulit, Barang dari Kulit, dan Alas Kaki

Data BPS mencatat kontribusi PDB industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki menunjukkan kinerja positif. Di tahun 2017, industri ini berkontribusi hingga Rp 36,99 triliun. Angka ini naik dari tahun-tahun sebelumnya yaitu 2016 yang sebesar Rp 35,14 triliun dan tahun 2015 yang hanya Rp 31,44 triliun. 

Kementerian Perindustrian terus berupaya mendorong pertumbuhan industri kulit, alas kaki dan barang jadi kulit. Sektor ini mendapat prioritas dalam pengembangannya agar lebih berdaya saing global, karena mampu memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap perekonomian nasional.

Infografis – Prestasi Industri Alas Kaki

Info grafis – Target Industri Tekstil

Info grafis – Profil Industri Tekstil

Pertumbuhan Industri Kosmetik Nasional

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat industri kosmetik nasional tumbuh 7,36% pada kuartal I-2018. Angka ini meningkat jika dibandingkan tahun 2017 yang tumbuh 6,35%.

Ke depannya, Kemenperin juga akan terus memacu pengembangan industri kosmetik di dalam negeri agar lebih berdaya saing global. Hal ini tidak lepas dari prospek bisnisnya yang masih cukup kemilau pada masa mendatang. Apalagi permintaan di pasar domestik dan ekspor juga semakin meningkat.

Investasi Industri Farmasi

Indonesia berpotensi unggul apabila mengembangkan sektor industri farmasi, herbal, dan kosmetika. Hsl ini karena Indonesia memiliki sumber daya alam yang mampu mendukung proses produksinya. Terlebih lagi, Indonesia akan bekerja sama dengan Singapura dalam penetapan standar dan keamanan pangan, termasuk juga produk herbal agar bisa lebih berdaya saing di tingkat global.

Hal ini didukung pula melalui program yang sedang gencar dilaksanakan oleh Kemenperin, yaitu pendidikan dan pelatihan vokasi berbasis kompetensi untuk menciptakan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan dunia industri.

Kemenperin mencatat, beberapa perusahaan farmasi dan bahan baku obat yang telah menggelontorkan dananya untuk investasi di Indonesia, antara lain PT. Kimia Farma Sungwun Pharmacopia senilai Rp132,5 miliar dan PT. Ethica Industri Farmasi sebesar Rp1 triliun. Sementara itu, di sektor kosmetika, adanya perluasan pabrik PT. Unilever Indonesia dengan nilai investasi mencapai Rp748,5 miliar.